Sabtu, 30 Januari 2021

Semester 5 PT Paling Berkesan


Saat itu, adalah hari terakhir kelas materi dari dosen F. Seminggu sebelumnya aku duduk di barisan paling depan seperti biasa, namun hari itu agak sedikit berbeda, dengan mata kuliah yang sama dan dosen yang sama, bedanya ada penekanan di, ''Ayo anak-anak keluarkan pendapat kalian, jangan diem aja!'' dan aku sekejap berpikir, ''Perasaan dari kemarin-kemarin pasti ada aja yang mau ngejawab, sekarang kenapa dipermasalahkan?'' ujarku membatin sambil menundukkan kepala.

Lalu dosen F lanjut lagi, ''Dari kemarin yang sering jawab yang itu-itu saja orangnya, yang lain kenapa ngga mau aktif? Bapak ngga mau di perkuliahan bapak yang aktif itu-itu aja, semua harus aktif'' ujarnya dengan penekanan disetiap kata. Kali itu dosen F tampaknya sangat kecewa, seperti merasa gagal berbuat sesuatu yang ingin dicapai diperkuliahannya, ya yaitu keaktifan mahasiswanya yang tidak maksimal. Padahal semua anak ''pernah'' aktif walaupun tidak serentak, habisnya menurutku itu dikarenakan gaya mengajarnya yang membuat tegang dan terlalu banyak penjelasan :')) maaf ya pak.

Setelah dia mengungkapkan kekecewaannya di 2 pertemuan terakhir sebelum UAS itu dia mengakhiri kelas. Itu membuatku merasa seperti akulah penyebabnya, hahaha. 

Di minggu berikutnya, aku merasa takut, sehingga memilih untuk duduk dibarisan paling belakang, padahal sahabatku telah menyiapkan kursi seperti biasa karena aku sering telat dan tidak kebagian kursi depan, tapi kali ini aku tidak ingin duduk di depan, takut.

Kulihat masih ada mahasiswa yang belum datang, dan akhirnya dua orang mahasiswa masuk disusul dengan dosen F. Padahal di barisan depan masih banyak yang kosong namun sialnya dua orang ini duduk disampingku. Aku ingin selalu melihat ekspresi dari dosen F ketika mengajar, kali itu aku tidak terlalu antusias melihatnya, aku hanya mendengar sambil menundukkan kepala, berharap kali ini aku tidak dibuat merasa bersalah karena tidak aktif. 

Seniat hari itu aku tidak ingin terlalu tampak oleh dosen F, ternyata tetap saja manusia yang duduk disampingku ini menyebabkan kerisihan, bagaimana tidak, dia aktif menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen F dan hal itu menyebabkan kontras yang cukup mengganggu dimata dosen F dan lagi-lagi aku merasa bersalah dan takut, kali itu aku ingin sekali berbicara dan ikut berpendapat, sebetulnya setiap ada pertanyaan aku selalu ingin berbicara tapi aku sangat takut.

Itu adalah kelas terakhir dan minggu depan adalah jadwal UAS dimana hanya akan ada kertas pena dan suara senyap yang bertemu. Kakak tingkat masuk sambil membawa soal ujian, aku kira dosen F tidak akan masuk tapi ternyata dia baru tiba, dan ya lanjut senyap, UAS dimulai..

Aku jadi mengingat sesuatu, saat itu adalah jadwal UTS, aku ingat waktu itu dosen F masuk meletakkan tasnya lalu izin keluar kelas, aku bisa melihatnya dari balik pintu hitam entah apakah dia bisa melihat kedalam dengan jelas atau tidak, aku melihatnya menunggu sesuatu, teman-temanku bilang, mungkin bapak sedang menunggu foto copyan soal UTS dari seseorang yang ia suruh.

Aku yang sedang melihatnya memainkan ponsel sambil menunduk tepat didepan pintu yang tertutup tiba-tiba ia mengangkat kepala dan ya aku sadar dia mungkin melihatku sedang melihatnya, dari tadi. Aku gugup, karena posisiku persis berada di depan mejanya, rasanya aku mau pingsan saja. Untung saja seseorang datang, tampak merekalah yang sedang dosen F tunggu sembari mengambil kertas yang akan digunakannya untuk ujian, huhah. 

Rasa gugupku bertambah ketika soalnya sudah diletakkan di atas mejaku, aaaa. Awalnya aku duduk di belakang mejaku saat ini, tapi dikarenakan tidak ada yang mengisi jadilah aku yang harus maju. Tidak bisa melirik kiri kanan, aku sungguh bingung, tidak ada yang b erbisik sampai terdengar oleh telingaku juga, susah sekali soalnya saat itu, omaigat betapa teganya pembuat soal itu!

Dan aku menyerah, bisa tidak bisa, harus dijawab, untungnya semua jawaban sudah disediakan, tapi, jawabannya berlebih sehingga membuatku banyak bingungnya. Misalkan jumlahnya pas juga aku masih tidak yakin bisa menjawab benar lebih dari 10 huhuhu. Setelah selesai aku mengumpulkan lembar jawabanku dan aku mengambil tas yang berada di samping tempat duduk dosen F. Aku ingat sekali, saat itu aku hendak bicara ''permisi'' namun yang keluar dari mulutku malah kalimat ngawur, untung saja suaraku kecil, tapi gelagatku sambil menoleh kearahnya seharusnya akan membuatnya heran dengan apa yang baru saja aku katakan, tapi tidak peduli setelah keluar dari pintu aku berlari menuju tangga dan bingung sendiri dengan apa yang terjadi barusan. Hahaha, bulan juni lalu tepatnya di akhir semester 6 dosen F sudah berpulang ke kampung asalnya di Aceh. 

Jika ada seorang pembaca yang ingat kenapa belakangan aku selalu membicarakan tentang Aceh, sebetulnya karena aku sangat merindukan seseorang dari kota itu. Walaupun dosen F menyimpan kontak WAku terkadang dia membagikan sesuatu di storynya tapi itu tidak cukup alasan untuk aku menanyakan kabarnya, karena kami tidak begitu dekat, jadilah aku hanya bisa bertanya dengan temanku yang belakangan baru pulang dari Aceh itu bagaimana disana atau disana.

Rindu dalam artian bukan yang kaya orang bucin itu ya, ya rindulah gimanasi rindu mahasiswa ke gurunya. Ada 3 dosen yang dhea kagumi dan mereka sangat berkesan untuk dhea

Jumat, 29 Januari 2021

Satu hanya akan satu

 ''Baek Seun Joo", ada seorang teman yang mengetahui siapa nama dibalik panggilan itu, iya itu adalah panggilanku untuk seseorang. Sebagaimana seorang teman itu tahu satu kisah seperti yang orang lain juga tahu, tapi hanya dia yang menghayati karakter sebuah drama, hahaha. 

Lucu juga, karena ada sebuah kisah yang dia kira sama seperti nama karakter drama dan menyebutnya dengan ''Baek Seun Joo'' in real life, hahaha, itu juga yang aku bayangkan sebetulnya. Aku suka karena hanya dia yang menyadari itu. Tapi, kisahnya tidak persis sama, tepatnya hanya dibagian ''Mengejar-ngejar dengan cara yang bisa dibilang sama ''agresif'''' hahaha terhadap seseorang yang begitu kita cintai selama 4 tahun, dan di dunia nyata ini waktunya tidak cukup sebatas itu, tepatnya aku menyukai seseorang yang ku sebut dia ''Baek Seun Joo'' itu selama 5,5 tahun, iya, aku baru berhenti menyadarinya ketika semester 3 kuliahku. bisa dikira-kiralah ya sejak kapan aku memulai.

Karena jatuh cintaku kepada tugas di semester tiga dan kepada kesehatan mentalku, hahaha. Kau harus tahu, menyukai seseorang sepihak seperti itu sangat menguras energi :D. Apakah itu artinya aku menyerah? tidak, aku tidak mudah menyerah dengan berhenti mencintai, aku hanya ''tidak dengan dia''. Walaupun lewat dari semester tiga, aku tetap pernah berpikir tentang dia, lagi. Bertanya ''Apa yang sedang dia lakukan saat ini?'', ''Apakah sikapnya telah berubah hangat?'' hahaha, itu cukup mengganggu, tapi kepalaku ini tetap saja repot-repot penasaran. 

Endingnya tidak sama, eh gatau ding hahaha. Seharusnya aku juga mengenalkan kepada temanku itu karakter Choi Dalpo, dia tahu betul karakter itu karena dia juga penyuka drama, tapi yang satu ini dia tidak tahu siapa yang kusebut dengan panggilan itu, hahaha penting kali ah.

Memilih tampan atau cerdas? tentu saja kupilih cerdas, kalau dia cerdas dia akan tahu penampilan yang baik akan menguntungkannya jangka panjang. Ingat ya, penampilan yang ''Baik''.

Hal yang harus diingat, hanya ada satu hati untuk seorang pencuri.

Dulu tidak sekikuk ini rasanya bercerita.

(continued on 14 march 2021..... )

Saat ini, Aku lagi bingung tentang pernyataan seseorang di dalam statusnya beberapa waktu lalu, bunyi statusnya itu kira-kira tentang dia yang menyerah untuk memperjuangkan seseorang yang tidak memberikan kesempatan untuk dia membuktikan sesuatu. Kenapa itu menggangguku? karena itu dari seseorang yang cukup bermakna. Dia adalah seorang teman baik. Tidak terjadi apa-apa di antara kami, hanya teman sejauh ini. Dikatakan dekat mungkin itu cukup meragukan, dikatakan tidak kenal itu terlalu naif. Intinya dia adalah seorang teman baik lah ya, bingung menyebutnya apa, hahaha gajelas. 

Biar kuceritakan sedikit seperti apa dia dan saya dalam berteman. Kami ''Tidak pernah'' bertemu sejak 4/5 tahun dari sekarang 2021. Sangat jarang berkomunikasi walaupun menyimpan kontak satu sama lain (mungkin) tapi dia dan saya pernah chatingan melalui nomor kontak sebut saja wassap. 

Dia orang yang cukup cuek dan, jutek, saya juga sama, bisa dikatakan kami hampir mirip ke pribadiannya, saya cukup gengsi mengakui apapun dengannya, hingga saat kami chatingan yang ada hanya percakapan singkat yang krik-krik (kelihatannya begitu). Hahaha taulah ya teman seperti apa kami ini.

Saya sedang merindukannya, tapi tentu malu mengatakan kepadanya, saya sering mondar mandir melihat percakapan yang pernah ada (sebagian), hanya sebagian percakapan yang menjengkelkan yang masih tersimpan (karena pesannya pendek-pendek, hahahah, namun cukup manis karena dia senang memberitahu sesuatu tanpa saya tanya, apapun itu tentang kegiatannya, hahaha, itu cukup manis untuk saya), entah bagaimana dengan dia, tidak pernah kudengar apa-apa tentangnya dari orang lain karena orang lain tidak tahu jika kami berteman, hahaha, sekalipun mereka teman satu sekolah kami dulu.

Saya tidak terlalu tahu tentang dia walaupun kami berteman, jadi, taulahya teman seperti apa kami, hahaha (sekali lagi). Saat ini saya dan dia berada di provinsi yang sama, tapi, tetap saja belum ditakdirkan bertemu walaupun bisa saja disengaja. Oh ya, Saya juga tidak suka jika disengaja, karena itu membuatnya tidak surprise lagi hahaha. Saya dapat bahagia dengan kejutan-kejutan kecil, dan jika nanti bertemu karena takdir dengannya itu akan menjadi kejutan besar untuk saya, tidak tahu dengan dia. Sekarang saya hanya harus bersabar, dalam menahan rindu, hahaha.

Ngomong-ngomong tentang pertemuan, dulu ketika dia dan saya juga di provinsi yang sama, dia pernah mengajak saya jalan lewat facebook, tapi saya hanya membalas dengan polosnya ''dengan siapa?'' dia jawab, ''dengan kamu'' hahaha itu sangat manis. Dan saat itu, saya tolak, karena diluar pengawasan orang tua, hahaha. Dulu saya taunya dia juga merantau di sini sebelum saya tahu bahwa dia dan orang tuanya memang berasal dari sini. Kupikir karena kami sama-sama kos, saya tidak boleh seenaknya keluar dengan laki-laki yang juga sedang bebas dari pengawasan orang tua. Karena itu tidak baik, nanti takutnya terbiasa.

Saya lebih baik jalan-jalan sendiri daripada diajak seorang anak kos laki-laki jalan-jalan berdua tanpa rasa takut. Saya mungkin cukup kikuk dan naif ya hahahah. Saat saya sendiri bepergian, saya pernah terpikir andai saja ada teman saya yang menemani, saya takut sendirian sebetulnya, tapi saya juga bukan penakut akut. Dengan membawa segenap keberanian, saya pergi sendiri ke tempat yang saya ingin. Kabar buruknya, pernah digodain sama pengamen, tapi karena saya sedang sendiri saya hanya bisa berkamuflase dengan menunjukkan raut wajah sinis agar dia menyadari betapa menakutkannya jika menggoda saya, hahahha, tetap saja dibilang ''neng, manis sekali'', dasar!! pengamen sekarang tiada takut-takutnya dengan tuhan! Setelah itu tetap saja saya tidak kapok bepergian sendiri, hahaha. saya mudah bosan dengan aktivitas saya walaupun saya bersemangat untuk apapun, jika bisa bahkan ingin sekali saya tetap melakukan aktivitas biasanya sambil jalan-jalan, sayangnya itu bisa merepotkan saya, hahaha.

Sudah dululah, bye!!





Cerita Kelas 9.7

Hai, Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Hari ini Aku mau bikin halaman blog ini khusus untuk cerita anak-anakku di sekolah. ...