Saat itu, adalah hari terakhir kelas materi dari dosen F. Seminggu sebelumnya aku duduk di barisan paling depan seperti biasa, namun hari itu agak sedikit berbeda, dengan mata kuliah yang sama dan dosen yang sama, bedanya ada penekanan di, ''Ayo anak-anak keluarkan pendapat kalian, jangan diem aja!'' dan aku sekejap berpikir, ''Perasaan dari kemarin-kemarin pasti ada aja yang mau ngejawab, sekarang kenapa dipermasalahkan?'' ujarku membatin sambil menundukkan kepala.
Lalu dosen F lanjut lagi, ''Dari kemarin yang sering jawab yang itu-itu saja orangnya, yang lain kenapa ngga mau aktif? Bapak ngga mau di perkuliahan bapak yang aktif itu-itu aja, semua harus aktif'' ujarnya dengan penekanan disetiap kata. Kali itu dosen F tampaknya sangat kecewa, seperti merasa gagal berbuat sesuatu yang ingin dicapai diperkuliahannya, ya yaitu keaktifan mahasiswanya yang tidak maksimal. Padahal semua anak ''pernah'' aktif walaupun tidak serentak, habisnya menurutku itu dikarenakan gaya mengajarnya yang membuat tegang dan terlalu banyak penjelasan :')) maaf ya pak.
Setelah dia mengungkapkan kekecewaannya di 2 pertemuan terakhir sebelum UAS itu dia mengakhiri kelas. Itu membuatku merasa seperti akulah penyebabnya, hahaha.
Di minggu berikutnya, aku merasa takut, sehingga memilih untuk duduk dibarisan paling belakang, padahal sahabatku telah menyiapkan kursi seperti biasa karena aku sering telat dan tidak kebagian kursi depan, tapi kali ini aku tidak ingin duduk di depan, takut.
Kulihat masih ada mahasiswa yang belum datang, dan akhirnya dua orang mahasiswa masuk disusul dengan dosen F. Padahal di barisan depan masih banyak yang kosong namun sialnya dua orang ini duduk disampingku. Aku ingin selalu melihat ekspresi dari dosen F ketika mengajar, kali itu aku tidak terlalu antusias melihatnya, aku hanya mendengar sambil menundukkan kepala, berharap kali ini aku tidak dibuat merasa bersalah karena tidak aktif.
Seniat hari itu aku tidak ingin terlalu tampak oleh dosen F, ternyata tetap saja manusia yang duduk disampingku ini menyebabkan kerisihan, bagaimana tidak, dia aktif menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen F dan hal itu menyebabkan kontras yang cukup mengganggu dimata dosen F dan lagi-lagi aku merasa bersalah dan takut, kali itu aku ingin sekali berbicara dan ikut berpendapat, sebetulnya setiap ada pertanyaan aku selalu ingin berbicara tapi aku sangat takut.
Itu adalah kelas terakhir dan minggu depan adalah jadwal UAS dimana hanya akan ada kertas pena dan suara senyap yang bertemu. Kakak tingkat masuk sambil membawa soal ujian, aku kira dosen F tidak akan masuk tapi ternyata dia baru tiba, dan ya lanjut senyap, UAS dimulai..
Aku jadi mengingat sesuatu, saat itu adalah jadwal UTS, aku ingat waktu itu dosen F masuk meletakkan tasnya lalu izin keluar kelas, aku bisa melihatnya dari balik pintu hitam entah apakah dia bisa melihat kedalam dengan jelas atau tidak, aku melihatnya menunggu sesuatu, teman-temanku bilang, mungkin bapak sedang menunggu foto copyan soal UTS dari seseorang yang ia suruh.
Aku yang sedang melihatnya memainkan ponsel sambil menunduk tepat didepan pintu yang tertutup tiba-tiba ia mengangkat kepala dan ya aku sadar dia mungkin melihatku sedang melihatnya, dari tadi. Aku gugup, karena posisiku persis berada di depan mejanya, rasanya aku mau pingsan saja. Untung saja seseorang datang, tampak merekalah yang sedang dosen F tunggu sembari mengambil kertas yang akan digunakannya untuk ujian, huhah.
Rasa gugupku bertambah ketika soalnya sudah diletakkan di atas mejaku, aaaa. Awalnya aku duduk di belakang mejaku saat ini, tapi dikarenakan tidak ada yang mengisi jadilah aku yang harus maju. Tidak bisa melirik kiri kanan, aku sungguh bingung, tidak ada yang b erbisik sampai terdengar oleh telingaku juga, susah sekali soalnya saat itu, omaigat betapa teganya pembuat soal itu!
Dan aku menyerah, bisa tidak bisa, harus dijawab, untungnya semua jawaban sudah disediakan, tapi, jawabannya berlebih sehingga membuatku banyak bingungnya. Misalkan jumlahnya pas juga aku masih tidak yakin bisa menjawab benar lebih dari 10 huhuhu. Setelah selesai aku mengumpulkan lembar jawabanku dan aku mengambil tas yang berada di samping tempat duduk dosen F. Aku ingat sekali, saat itu aku hendak bicara ''permisi'' namun yang keluar dari mulutku malah kalimat ngawur, untung saja suaraku kecil, tapi gelagatku sambil menoleh kearahnya seharusnya akan membuatnya heran dengan apa yang baru saja aku katakan, tapi tidak peduli setelah keluar dari pintu aku berlari menuju tangga dan bingung sendiri dengan apa yang terjadi barusan. Hahaha, bulan juni lalu tepatnya di akhir semester 6 dosen F sudah berpulang ke kampung asalnya di Aceh.
Jika ada seorang pembaca yang ingat kenapa belakangan aku selalu membicarakan tentang Aceh, sebetulnya karena aku sangat merindukan seseorang dari kota itu. Walaupun dosen F menyimpan kontak WAku terkadang dia membagikan sesuatu di storynya tapi itu tidak cukup alasan untuk aku menanyakan kabarnya, karena kami tidak begitu dekat, jadilah aku hanya bisa bertanya dengan temanku yang belakangan baru pulang dari Aceh itu bagaimana disana atau disana.
Rindu dalam artian bukan yang kaya orang bucin itu ya, ya rindulah gimanasi rindu mahasiswa ke gurunya. Ada 3 dosen yang dhea kagumi dan mereka sangat berkesan untuk dhea
Tidak ada komentar:
Posting Komentar